ROOL – Bupati Rote Ndao Paulus Henuk meminta masyarakat memanfaatkan program Bantuan Pangan Beras untuk mencukupi gizi keluarga sekaligus memutus rantai stunting saat membuka penyaluran alokasi Juli–September 2026 di Desa Tolama, Kecamatan Loaholu, Selasa (18/8/2026).
Pada titik penyaluran Desa Tolama, sebanyak 330 Kepala Keluarga (KK) menerima alokasi beras 10 kilogram per bulan atau 30 kilogram sekaligus untuk jatah tiga bulan. Berdasarkan data nasional DTSEN Triwulan III 2026, total penerima bantuan pangan di Kabupaten Rote Ndao mencapai 25.487 penerima ditambah 333 kuota cadangan.
Kritik Pola Konsumsi Ternak dan Pencegahan Stunting
Bupati menegaskan bahwa akses terhadap beras memiliki proporsi hitungan lebih dari 29 persen atau hampir 30 persen dalam menentukan indikator kemiskinan, termasuk kategori miskin ekstrem. Meski demikian, kecukupan beras wajib diimbangi dengan asupan protein hewani agar anak-anak terhindar dari kondisi gagal tumbuh.
Ia mengkritik kebiasaan sebagian masyarakat yang enggan menyembelih hewan ternak sendiri untuk kebutuhan pangan harian di rumah. Hewan ternak kerap kali baru dipotong saat menyambut tamu atau dijual ke pasar demi sumbangan pesta (tu’u).
Bupati menerangkan bahwa stunting merupakan kondisi ketidakseimbangan pertumbuhan fisik anak antara usia, tinggi badan, dan berat badan. Ia menginstruksikan Pemerintah Desa Tolama beserta seluruh jajaran perangkat desa untuk terus memberikan edukasi pemenuhan gizi keluarga kepada masyarakat.
Didukung Surplus Beras Daerah 1.504 Ton
Program bantuan pangan beras dari Cadangan Pangan Pemerintah ini berjalan beriringan dengan capaian ketahanan pangan lokal. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rote Ndao, Nixon Molelanik Balukh, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa Rote Ndao mencatatkan surplus produksi beras hingga Juli 2026.
Perum Bulog tercatat telah menyerap 1.357 ton beras dan 229 ton gabah petani lokal, atau setara 1.504 ton senilai Rp 17,9 miliar. Dari total stok yang diserap tersebut, Rote Ndao bahkan telah mendistribusikan 509 ton beras untuk menyokong kebutuhan daerah lain, mencakup Kabupaten Timor Tengah Selatan (300 ton), Sabu Raijua (200 ton), dan Timor Tengah Utara (9 ton). (**)