ROOL – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) yang berlokasi di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai berproduksi pada akhir tahun 2026. Proyek strategis nasional ini dibangun sebagai langkah konkret untuk mengejar target swasembada garam nasional yang dipatok tercapai pada akhir tahun 2027.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menjelaskan bahwa pembangunan kawasan industri garam modern di Rote Ndao merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden Prabowo Subianto. Presiden memerintahkan agar Indonesia sebagai negara maritim tidak lagi bergantung pada pasokan garam impor. Hal tersebut disampaikan Trenggono dalam acara Economic Update 2026 CNBC Indonesia pada Kamis (25/6/2026).
Karakteristik Air Laut Serupa Australia
KKP memilih Rote Ndao sebagai lokasi model kawasan industri garam modern karena faktor keunggulan alamnya. Air laut di wilayah Rote Ndao dinilai memiliki karakteristik yang sama dengan kawasan produksi garam di Australia.
Australia merupakan salah satu produsen garam terbesar di dunia yang memiliki stabilitas ekspor ke berbagai negara sejak tahun 1960-an. KKP mengadopsi ekosistem tersebut di Rote Ndao untuk menghasilkan kualitas garam yang konsisten. Penerapan metode modern lewat K-SIGN ini ditujukan untuk mengatasi kendala produksi garam rakyat tradisional yang kualitas hasilnya selama ini masih fluktuatif.
Target Produksi Lahan 2.000 Hektare
Kawasan K-SIGN di Rote Ndao ini mengintegrasikan lahan seluas kurang lebih 2.000 hektare. Ketika beroperasi penuh, wilayah ini diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 500 ribu ton garam per tahun.
Tambahan pasokan dari Rote Ndao akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan garam nasional yang saat ini mencapai 5 juta ton per tahun. Sebagai perbandingan, total produksi garam rakyat di Indonesia baru mendekati angka 3 juta ton dengan kualitas yang beragam.
Kebutuhan komoditas garam nasional saat ini tersebar di berbagai sektor. Selain untuk konsumsi rumah tangga, garam dengan spesifikasi khusus dalam jumlah besar sangat dibutuhkan oleh sektor industri makanan, farmasi, pengeboran, hingga industri kertas.
Di samping memaksimalkan potensi di Rote Ndao, pemerintah juga mendorong PT Garam untuk melakukan ekspansi produksi ke wilayah Indonesia Timur lainnya. Langkah ini diambil karena lahan produksi penambakan lama di Madura telah mengalami kontaminasi tinggi sehingga memerlukan proses revitalisasi. (*)







