16th ANNIVERSARY
2026
Rote Ndao

Mengenal Kabupaten Rote Ndao: Beranda Terselatan Indonesia yang Kaya Potensi Wisata dan Budaya

• 6 menit membaca

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mengenal Kabupaten Rote Ndao: Beranda Terselatan Indonesia yang Kaya Potensi Wisata dan Budaya

Mengenal Kabupaten Rote Ndao: Beranda Terselatan Indonesia yang Kaya Potensi Wisata dan Budaya

📋Daftar Isi[sembunyikan]
  1. ​Rekam Jejak Sejarah dan Transformasi Administratif Rote Ndao
  2. ​Pembagian Wilayah Administrasi Terkini di 11 Kecamatan
  3. ​Potensi Sektor Ekonomi, Pertanian, dan Capaian Pembangunan
  4. ​Destinasi Wisata Unggulan dan Warisan Budaya Sasando
  5. ​Kondisi Geografis, Iklim Sabana Tropis, dan Aksesibilitas

Kabupaten Rote Ndao yang terletak di ujung selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini telah memasuki usia 22 tahun sebagai daerah otonom sejak dibentuk secara resmi pada 10 April 2002. Kabupaten beribu kota Baa ini memiliki luas wilayah mencapai 1.280,10 kilometer persegi. Berdasarkan data pertengahan tahun 2024 lalu, jumlah penduduk di wilayah ini tercatat sebanyak 152.613 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 118 jiwa per kilometer persegi.

​Perjalanan administratif Rote Ndao menjadi daerah otonom yang terpisah dari Kabupaten Kupang disahkan melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002. Secara geografis, wilayah kepulauan ini terdiri dari 107 pulau, dengan Pulau Ndao sebagai titik paling selatan di Indonesia sekaligus di benua Asia. Saat ini, tampuk pemerintahan daerah dipimpin oleh Bupati Paulus Henuk, S.H., bersama Wakil Bupati Apremoi Dudelusy Dethan.

Rekam Jejak Sejarah dan Transformasi Administratif Rote Ndao

​Sebelum menjelma sebagai kabupaten otonom yang mandiri, Rote semula berada di bawah sistem pemerintahan tradisional yang dikenal sebagai “Nusak” atau sistem kerajaan. Kehadiran bangsa Eropa bermula saat misionaris membawa misi Dominikan ke wilayah ini. Hubungan kolonial dengan pemerintah Belanda kemudian terjalin dan berlangsung dalam kurun waktu yang panjang, yakni dari tahun 1658 hingga 1932.

​Pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, struktur pemerintahan tradisional tersebut mulai mengalami perubahan. Pada tahun 1958, melalui UU Nomor 69 Tahun 1958, Rote ditetapkan sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Kupang. Selanjutnya, pemerintah membubarkan sistem nusak-nusak melalui regulasi undang-undang pada tahun 1962.

​Fase perubahan status administratif Rote terus bergulir hingga menjadi Wilayah Koordinator Schap Kupang pada 1968, kemudian beralih status menjadi Wilayah Pembantu Bupati Kupang pada 1979. Aspirasi kuat untuk mendirikan daerah otonom baru muncul pada tahun 2000, yang digerakkan oleh 300 tokoh adat setempat. Setelah undang-undang pemekaran terbit pada tahun 2002, Christian Nehemia Dillak, SH, ditunjuk sebagai Bupati Rote Ndao pertama dengan prioritas kebijakan pada sektor pertanian dan perkebunan.

Pembagian Wilayah Administrasi Terkini di 11 Kecamatan

​Pertumbuhan wilayah otonom ini diikuti dengan pemekaran struktur kecamatan. Dari yang awalnya hanya memiliki 6 kecamatan, kini Kabupaten Rote Ndao terbagi secara administratif ke dalam 11 kecamatan, 7 kelurahan, dan 112 desa.

​Berikut susunan pembagian kecamatan beserta pusat desa atau kelurahan utamanya:

Kode Wilayah

Kecamatan

Jumlah Kelurahan

Jumlah Desa

Desa/Kelurahan Utama

53.14.01

Rote Barat Daya

19

Oeseli, Landu, Batutua, Lekik

53.14.02

Rote Barat Laut

1

11

Busalangga (Kel.), Temas, Saindule

53.14.03

Lobalain

3

15

Metina, Mokdale, Namodale, Lekunik

53.14.04

Rote Tengah

1

7

Onatali, Limakoli, Maubesi

53.14.05

Pantai Baru

1

14

Olafulihaa, Tesabela, Oenggae

53.14.06

Rote Timur

1

10

Serubeba, Papela, Matanae

53.14.07

Rote Barat

7

Nembrala, Bo’a, Oelolot

53.14.08

Rote Selatan

7

Lidabesi, Suebela, Nggodimeda

53.14.09

Ndao Nuse

5

Ndaonuse, Nuse, Anarae

53.14.10

Landu Leko

7

Pukuafu, Bolatena, Lifuleo

53.14.11

Loaholu

10

Balaoli, Oelua, Tasilo

Dari seluruh wilayah tersebut, Kecamatan Ndao Nuse tercatat sebagai kawasan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi, yakni mencapai 274 jiwa per kilometer persegi. Sebaliknya, Kecamatan Landu Leko memiliki tingkat kepadatan terendah dengan angka 28 jiwa per kilometer persegi.

Potensi Sektor Ekonomi, Pertanian, dan Capaian Pembangunan

​Struktur perekonomian Kabupaten Rote Ndao bertumpu kuat pada sektor domestik. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tahun 2023 menyentuh angka Rp3.746,67 miliar, atau mengalami pertumbuhan sebesar 2,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan per kapita masyarakat atas dasar harga berlaku berada pada nominal Rp24,98 juta per tahun.

​Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi pilar utama perekonomian daerah dengan kontribusi dominan sebesar 49,33 persen terhadap PDRB. Sektor lain yang menopang perekonomian berturut-turut adalah jasa pendidikan (11,96 persen), administrasi pemerintahan (11,63 persen), perdagangan (7,50 persen), serta konstruksi (4,72 persen). Pada sub-sektor pertanian, komoditas utama yang dihasilkan meliputi padi sawah dengan total produksi 85.907,4 ton, jagung 4.127,7 ton, ubi kayu 1.392,6 ton, dan ubi jalar 920,4 ton.

​Di sisi pembangunan manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Rote Ndao berada pada angka 65,79 di tahun 2023, menempati peringkat ke-15 dari 22 kabupaten/kota yang ada di Provinsi NTT. Angka harapan hidup masyarakat lokal mencapai 70,12 tahun pada 2024, didukung oleh fasilitas kesehatan yang mencakup 1 unit RSUD di Kota Baa, 12 unit Puskesmas, dan 85 unit Puskesmas Pembantu.

Destinasi Wisata Unggulan dan Warisan Budaya Sasando

​Kabupaten Rote Ndao memiliki potensi pariwisata yang dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, yaitu wisata alam, wisata buatan, wisata budaya, dan wisata sejarah. Salah satu destinasi yang dikenal luas di tingkat internasional adalah Pantai Nembrala yang terletak di Desa Nembrala, Kecamatan Rote Barat. Pantai ini memiliki daya tarik berupa pasir putih dan karakteristik ombak yang stabil bagi peselancar pemula maupun profesional. Musim ombak terbaik di pantai ini berlangsung dari bulan Agustus hingga Oktober. Nembrala juga meraih penghargaan sebagai Most Popular Surfing Spot dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016.

​Destinasi ikonik lainnya adalah Pantai Batu Termanu di Kecamatan Rote Tengah, yang berjarak sekitar 15 menit perjalanan dari ibu kota Baa. Kawasan ini memiliki ciri khas dua batu besar, yakni Batu Hun (batu laki-laki) di lepas pantai dan Batu Suelai (batu perempuan) di tepian pantai yang disakralkan sebagai tempat pemujaan adat untuk memohon rezeki. Selain itu, terdapat destinasi alam lain seperti Pantai Oeseli, Mulut Seribu, Telaga Nirwana, Danau Laut Mati, serta objek wisata sejarah Rumah Raja Thie J.A. Messakh di Kecamatan Rote Barat Daya yang dibangun pada tahun 1930 guna menghentikan perang saudara antarkerajaan.

​Kekayaan daerah ini juga direpresentasikan melalui alat musik tradisional Sasando (Sasandu). Alat musik petik ini terbuat dari daun lontar dan memiliki berbagai variasi tipe, mulai dari sasando engkel (28 dawai), sasando dobel (56 atau 84 dawai), hingga jenis sasando gong dan biola. Alat musik ini berfungsi sebagai pengiring tarian, nyanyian tradisional, serta upacara duka masyarakat adat Suku Rote dan Suku Dhao yang mendiami wilayah tersebut.

Kondisi Geografis, Iklim Sabana Tropis, dan Aksesibilitas

​Secara geografis, wilayah Rote Ndao berbatasan langsung dengan Laut Sawu di sebelah utara, Laut Timor di sebelah timur, Samudra Hindia di sebelah selatan, serta perpaduan Laut Sawu dan Samudra Hindia di sebelah barat. Wilayah ini dipengaruhi oleh iklim sabana tropis kering (Aw).

​Kondisi iklim di Rote Ndao ditandai dengan periode musim hujan yang relatif singkat antara bulan Desember hingga Maret, serta musim kemarau panjang yang berlangsung dari April hingga November. Curah hujan tahunan berkisar antara 800 hingga 1.600 milimeter dengan total hari hujan berkisar antara 70 sampai 130 hari per tahun. Suhu udara rata-rata harian berada pada rentang 20 derajat hingga 34 derajat Celsius dengan kelembapan tahunan berkisar di angka 71,9 persen.

​Untuk menunjang mobilitas orang dan barang, infrastruktur transportasi di Rote Ndao dilayani oleh Bandara D.C. Saudale yang berlokasi di Kecamatan Lobalain untuk jalur udara. Sementara untuk akses jalur laut, pintu masuk utama daerah ini bertumpu pada Pelabuhan Ferry Pantai Baru, yang menghubungkan daratan Pulau Rote dengan pulau-pulau sekitar maupun ke ibu kota provinsi. Akses jalan darat dari pelabuhan ferry menuju pusat aktivitas selancar di Nembrala dapat ditempuh dalam waktu 1 hingga 1,5 jam perjalanan. (*)

Ikuti Berita ROOLNEWS.id di Google News Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung di feed Google News Anda
Terverifikasi Google News
IKUTI
Mengenal Kabupaten Rote Ndao: Beranda Terselatan Indonesia yang Kaya Potensi Wisata dan Budaya
← Sebelumnya Juara I Lomba Paduan Suara Diraih GMIT Menggelama di Rote
Bagikan
WhatsApp Facebook