ROOL – Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Kabupaten Rote Ndao kian meresahkan konsumen. Selain kelangkaan pasokan yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU, masyarakat kini mulai mengeluhkan dugaan penjualan BBM dengan harga dan takaran yang tidak sesuai aturan.
Kondisi ketidakpastian ini berdampak langsung pada biaya hidup dan aktivitas ekonomi warga, terutama para petani yang membutuhkan BBM untuk mengoperasikan alat-alat pertanian modern.
”Alat pertanian sekarang semuanya membutuhkan BBM. Kami terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk membeli BBM,” ungkap seorang warga, Benny, Jumat (15/5/2026).
Benny menjelaskan bahwa bagi masyarakat kecil, jenis BBM bersubsidi atau nonsubsidi tidak menjadi persoalan utama. Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah kepastian ketersediaan barang di pasar serta kejujuran dalam takaran penjualan.
”Intinya barang ada dan sesuai takaran. Tapi kalau kondisi seperti ini terus terjadi, kami akan melakukan aksi demonstrasi karena petani sangat terdampak,” tegas Benny.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pihak Pemerintah mengenai penyebab utama terganggunya distribusi energi di wilayah tersebut. Warga berharap seluruh pihak terkait segera turun tangan untuk menormalisasi pasokan agar tidak semakin menyulitkan masyarakat kecil. (*)







