18 Hektare Lahan Oeleka untuk Pertanian Terpadu

R
Redaksi
14 Agt 2026, 18:19 WITA 2 min baca
Teks

ROOL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao resmi mengeksekusi program “Rote Ndao Bertani” melalui peninjauan lahan percontohan pertanian terpadu (integrated farming) seluas 18 hektare di Desa Oeleka, Kamis (13/8/2026). Peninjauan lapangan tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Rote Ndao, Dani W. Nalle, S.Pt, bersama jajaran pimpinan dinas lintas sektor.

​Program tersebut disiapkan untuk mengubah pola pertanian konvensional dengan menyatukan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan, sekaligus mengintegrasikannya dengan konsep agrowisata dan sarana edukasi daerah.

Dua Pola Pengembangan dan Komoditas Unggulan

​Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rote Ndao, Nixon Molelanik Balukh, memaparkan bahwa proyek percontohan ini dijalankan melalui dua skema operasional utama.

​”Pola pertama berbasis kawasan berskala ekonomi dengan luasan sekitar 18 hektare di Desa Oeleka. Pola kedua berbasis rumah tangga dengan memanfaatkan pekarangan warga,” ujar Nixon usai peninjauan lokasi.

​Guna menjamin hasil produksi terserap pasar, dinas teknis terkait langsung menentukan komoditas prioritas. Plt. Kepala Dinas Perikanan, Yeanes Riwu, menyebutkan komoditas ikan lele, nila, dan udang galah menjadi fokus budi daya karena memiliki potensi pasar yang pasti.

​Pada sektor peternakan, Kepala Dinas Peternakan, Hermanus Haning, mengarahkan integrasi budi daya sapi dan ayam petelur yang dipadukan dengan ketersediaan pakan jagung serta sektor perikanan.

Penerapan Sistem Zero Waste dan Kemitraan Akademisi

​Skema integrasi tersebut mendapat dukungan dari pelaku usaha lokal lulusan pendidikan vokasi IPB, Mekris Nalle. Ia mengusulkan penerapan sistem nir-limbah (zero waste) sejak tahap awal produksi.

​”Sapi dan jagung adalah kombinasi ideal. Limbah jagung jadi pakan sapi, kotorannya kembali jadi pupuk organik. Selain itu, limbahnya bisa diolah jadi biogas untuk sumber energi baru terbarukan masyarakat,” jelas Mekris.

​Kesiapan teknis program ini turut diperkuat melalui pelibatan unsur akademisi. Guru Besar Universitas Nusa Lontar (UNSTAR), Prof. Yusup L. Henuk, Ph.D., menegaskan pentingnya kolaborasi bersama pakar ternak IPB, Prof. Asnath M. Fuah. Langkah ini ditujukan agar tata kelola kawasan berorientasi penuh pada kebutuhan pasar (market-driven) dan tidak sekadar mengejar target angka produksi.

Rencana Fasilitas Pendidikan dan Tata Ruang Terpadu

​Kawasan percontohan seluas 18 hektare ini dirancang memiliki fungsi ganda. Staf Aset Pemkab Rote Ndao, Soni Otta, mengungkapkan bahwa sebagian area tersebut telah diusulkan ke Kementerian Sosial untuk lokasi pembangunan Sekolah Rakyat.

​Pemerintah daerah akan mengatur pembagian tata ruang aset tersebut secara terpadu jika usulan disetujui, sehingga lokasi tersebut dapat berfungsi sekaligus sebagai pusat ekonomi pertanian, fasilitas pendidikan, dan tujuan eduwisata bagi masyarakat Rote Ndao. (**)

Bagikan Berita:
Bagaimana perasaan Anda?

Ketuk untuk memberi reaksi — tanpa login.

Float Read Ad (Glass Card — pojok kanan bawah artikel)
Sponsored
Smart Pause Ad (Overlay tengah — muncul saat berhenti scroll)
Sponsored