K-SIGN Rote Ndao Bakal Produksi September 2026, KKP Siapkan Pelatihan Tenaga Kerja Lokal

R
Redaksi
31 Jul 2026, 01:37 WITA 2 min baca
Teks:

ROOL – Pemerintah memastikan pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, berjalan sesuai target sehingga produksi garam perdana dapat dimulai pada September 2026. Kepastian tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan saat melakukan kunjungan kerja dan meninjau lokasi K-SIGN di Rote Ndao, Kamis.

Buka Lapangan Kerja dan Pelatihan Bagi Warga

​Pembangunan K-SIGN diproyeksikan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan menyiapkan program pelatihan dan sertifikasi agar warga lokal memiliki keterampilan dalam mengelola industri garam modern.

​Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan keberhasilan kawasan industri ini akan mendorong kemandirian garam nasional sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.

​”Kalau kawasan ini berhasil, bukan hanya Rote yang maju, Indonesia akan semakin mandiri memenuhi kebutuhan garamnya, impor bisa terus ditekan, ekonomi daerah tumbuh, dan masyarakat pesisir memperoleh manfaat yang nyata,” ujar Zulkifli Hasan.

​Kehadiran kawasan industri ini disambut positif oleh warga Rote Ndao. Nixon, salah seorang warga lokal, menyampaikan optimismenya terhadap dampak pembangunan proyek nasional tersebut bagi masa depan generasi muda Rote Ndao.

​”Kami bersyukur karena Rote dipilih menjadi kawasan industri garam nasional. Anak-anak muda nanti tidak perlu jauh mencari pekerjaan. Kami ingin garam dari Rote bisa memenuhi kebutuhan Indonesia dan menjadi kebanggaan daerah kami,” kata Nixon.

Target Produksi dan Pengembangan Kawasan

​Saat ini pembangunan K-SIGN telah memasuki Tahap II dengan pengembangan lahan seluas 751,32 hektare. Total kawasan yang sudah dibangun mencapai 1.368,25 hektare, dengan potensi perluasan hingga 10.764 hektare melalui kolaborasi pemerintah dan sektor swasta.

​Kawasan industri ini dirancang sebagai pusat produksi garam modern dan terintegrasi dengan target produktivitas mencapai 200 ton per hektare per tahun. Garam yang dihasilkan ditargetkan memiliki kadar natrium klorida (NaCl) hingga 97 persen guna memenuhi kebutuhan industri maupun konsumsi nasional.

​Dalam kunjungan ke lokasi, Zulkifli Hasan bersama rombongan pejabat meninjau langsung tambak garam modern serta Gudang Garam Nasional berkapasitas 10.000 ton yang menjadi fasilitas penunjang utama kawasan industri tersebut. (**)

Bagikan Berita:
Float Read Ad (Glass Card — pojok kanan bawah artikel)
Sponsored
Smart Pause Ad (Overlay tengah — muncul saat berhenti scroll)
Sponsored