ROOL – Bertahun-tahun lamanya, warga Pulau Usu di Kabupaten Rote Ndao harus bertaruh dengan kondisi cuaca dan gelombang laut demi urusan mobilitas. Namun, ketergantungan pada transportasi laut yang penuh risiko itu kini segera berakhir seiring dimulainya pembangunan jembatan gantung penghubung ke Pulau Rote. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi memulai proyek strategis ini guna menyediakan akses darat yang aman dan permanen bagi masyarakat setempat.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 Provinsi NTT, Audrian Ramanta Herdy, mengungkapkan bahwa jembatan ini dirancang khusus untuk pejalan kaki dengan bentang sepanjang 100 meter dan lebar 1,5 meter. Meski terlihat ramping, kekuatannya telah diperhitungkan secara matang dengan mencakup beban angin, gempa, hingga beban penggunaan. Dari sisi keamanan, struktur jembatan gantung tipe rigid berbahan galvanis ini diklaim jauh lebih stabil dan sudah memenuhi standar teknis nasional.
Proyek yang bersumber dari dana APBN ini menelan total anggaran sekitar Rp 14 miliar. Pekerjaannya dibagi menjadi dua paket utama, yakni bangunan bawah dan bangunan atas. Untuk bangunan bawah, kontrak senilai Rp 8 miliar telah berjalan dengan masa pekerjaan hingga 31 Desember 2026. Saat ini, tim di lapangan tengah melakukan tahap awal berupa survei dan pengukuran lahan. Sementara itu, untuk pekerjaan bangunan atas, prosesnya masih dalam tahap tender sembari menunggu revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Audrian menjelaskan bahwa pelaksanaan bangunan atas harus sinkron dengan bangunan bawah, sehingga waktu pengerjaan dibuat lebih panjang untuk mengantisipasi proses fabrikasi dan pengiriman material. Secara teknis, bangunan bawah akan menggunakan fondasi setempat dengan kedalaman antara 2 hingga 4 meter yang disesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi proyek. Keseluruhan material utama nantinya akan dikirim ke lokasi setelah proses tender dan administrasi rampung sepenuhnya.
Mengingat lokasi proyek yang berada di kepulauan, tantangan utama terletak pada distribusi material dan mobilisasi alat berat. BPJN NTT merencanakan pengiriman menggunakan ponton atau kapal khusus dari Pulau Rote menuju Pulau Usu. Demi menjaga kualitas konstruksi, material seperti agregat dan batu pecah bahkan didatangkan langsung dari Takari, Kupang. Proses mobilisasi alat berat sendiri dijadwalkan mulai berjalan pada April 2026 untuk memulai pembersihan lahan secara menyeluruh.
Pembangunan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dan masyarakat setempat yang telah lama menantikan akses tersebut. Dengan target pekerjaan utama rampung pada November 2026 dan penyelesaian akhir di Desember 2026, jembatan ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam meningkatkan aksesibilitas dan kesejahteraan warga. Kehadiran infrastruktur ini menjadi jawaban atas isolasi wilayah dan membuka babak baru bagi konektivitas masyarakat di beranda selatan Indonesia. (*)







