ROOLNEWS.ID – Pemerintah Kabupaten Rote Ndao bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (UNPAD) membedah tuntas kondisi terkini kawasan transmigrasi Batutua–Nusamanuk. Dalam diseminasi hasil kajian yang digelar di Graha Narwastu, Jumat (28/11/2025), terungkap dua sisi mata uang, yaitu tantangan sosial-ekonomi yang masih nyata, bersanding dengan potensi besar yang belum tergarap.
Kabar baik datang dari sektor pengembangan wilayah. Ketua Tim Output 1, dr. Dani Ferdian, M.K.M., Sp.KKLP., Subsp. COPC, menyampaikan bahwa Kementerian Transmigrasi menaruh perhatian khusus pada kawasan Oenggaut.
“Pusat meminta data terkait ketersediaan 400 hektare lahan di Oenggaut yang belum teroptimalkan. Ini menjadi prioritas strategis karena lokasinya yang dekat dengan jantung wisata,” ungkap dr. Dani. Tim telah melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan data tersebut akurat sebelum dilaporkan ke pusat.
Namun, dr. Dani juga membuka data evaluasi yang cukup krusial. Berdasarkan indikator Indeks Perkembangan Wilayah Transmigrasi, dimensi ekonomi dan sosial budaya masih rapuh. Di tingkat Satuan Permukiman (SP), layanan perbankan tidak tersedia, dan promosi komoditas unggulan nyaris nihil.
“Pada dimensi sosial budaya, hampir semua SP masih memiliki penyandang masalah kesejahteraan sosial. Program pemberantasan buta aksara maupun kegiatan belajar Paket A, B, C belum berjalan,” paparnya secara transparan di hadapan Sekda Rote Ndao dan para Camat.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Output 2 di bawah arahan Dr. Siti Nurhasanah, S.TP., M.Si., menawarkan solusi konkret berupa pengembangan produk lokal. Melalui pelatihan yang telah digelar pertengahan November lalu, masyarakat dilatih memproduksi bawang goreng dan olahan buah lontar (fruit leather).
“Kami merekomendasikan pembangunan Rumah Produksi Bersama yang memenuhi standar kesehatan, serta akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memperkuat modal warga,” jelas Dr. Siti.
Sekretaris Daerah Rote Ndao Drs. Jonas M. Selly, MM., merespons positif temuan ini. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk mengubah orientasi dari sekadar memberi bantuan menjadi pembangunan kapasitas. Pemda juga tengah mengkaji alokasi anggaran baru untuk sektor garam dan fasilitas dasar guna mendukung rekomendasi tim.
Program Ekspedisi Patriot ini dipastikan berlanjut sebagai program multi-years, dengan target setiap desa memiliki produk unggulan sebelum masuk tahap klasterisasi ekonomi pada tahun ketiga. Acara diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan. (*)







