ROOL – Kendala klasik pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kerap terhenti akibat cuaca buruk di perairan Rote Ndao segera menemui titik terang. Melalui rapat kerja strategis lintas kementerian di Jakarta, Rabu (1/4/2026), Pemerintah Kabupaten Rote Ndao berhasil mengunci kesepakatan pembangunan fasilitas penyimpanan BBM (Jobber) sebagai langkah mandiri energi.
Rapat yang dipimpin oleh Dirjen Pengelolaan Kelautan KKP, Ir. Koswara, M.P., ini mempertemukan Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, SH, dengan pemangku kepentingan utama mulai dari Kementerian ESDM, BPH Migas, PT Pertamina Patra Niaga, PT PLN, hingga PT Nindya Karya.
Pertemuan tersebut menghasilkan lima poin kesepakatan krusial untuk mempercepat kehadiran Jobber di Bumi Ti’i Langga:
- Kepastian Skema: Penetapan apakah pembangunan akan dilakukan oleh Pertamina, Pemda, atau skema kerja sama investasi guna menyusun perencanaan teknis.
- Solusi Transisi: Menyiapkan fasilitas penampungan BBM sementara agar operasional industri tetap berjalan selama masa pembangunan permanen (1–2 tahun).
- Linimasa Terukur: Penyusunan jadwal komprehensif mulai dari kajian teknis hingga operasional fisik.
- Akselerasi Perizinan: Pengurusan izin usaha sementara dilakukan beriringan dengan penetapan skema pembangunan.
- Sinergi Lintas Lembaga: Pembentukan tim teknis dan komitmen tertulis dari seluruh instansi terkait untuk percepatan pembangunan.
Urgensi pembangunan Jobber ini bukan tanpa alasan. Saat ini, kapasitas mesin PLN di Rote Ndao mencapai 10 MW, namun hanya mampu dioptimalkan sebesar ±5 MW akibat terbatasnya pasokan BBM. Di sisi lain, Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) yang menjadi motor ekonomi baru membutuhkan tambahan daya sedikitnya 4 MW pada tahap awal.
”Pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas 2 hektare yang telah bersertifikat atas nama Pemda Rote Ndao untuk lokasi pembangunan fasilitas penyimpanan BBM ini,” ungkap Bupati Paulus Henuk.
Kehadiran fasilitas penyimpanan BBM ini diproyeksikan akan mengamankan operasional K-SIGN yang memiliki luas potensi hingga 13.000 hektare. Saat ini, 1.700 hektare tengah dikembangkan, di mana 700 hektare di antaranya mulai beroperasi pada April 2026 ini.
Langkah berani ini terbukti linear dengan capaian ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi Rote Ndao tercatat melonjak signifikan dari 4% menjadi 7,69% pada tahun 2025. Dengan adanya Jobber, risiko kelangkaan BBM akibat gangguan distribusi dari Kupang saat cuaca ekstrem diharapkan tidak lagi menjadi penghambat aktivitas ekonomi dan industri di Rote Ndao. (*)







