ROOL – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Rote Ndao berhasil mengubah momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 kabupaten tersebut menjadi gerakan “Menang atas Lupa”. Melalui Festival Literasi bertajuk lomba bertutur cerita rakyat, enam penutur cilik terpilih sebagai penjaga nyala tradisi lisan di Bumi Rote Malole.
Keenam literat cilik ini diapresiasi bukan sekadar karena kepiawaian mereka menghafal cerita, melainkan atas keberanian mereka merawat warisan budaya yang mulai tergerus zaman.
Tampil sebagai bintang utama, Viona Margared Mandala dari SD Negeri 1 Ba’a, Kecamatan Lobalain, berhasil menyabet gelar Juara 1. Dewan juri menilai Viona tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kemampuan ekspresi dan penyampaian pesan yang penuh penghayatan.
Sebagai bentuk legitimasi atas prestasinya, Viona memboyong piala kemenangan serta uang tunai senilai Rp4.000.000.
Daftar Pemenang dan Investasi Literasi
Selain Viona, lima penutur berbakat lainnya turut menerima apresiasi atas kemampuan mereka merangkai narasi secara runtut dan penuh penjiwaan:
- Juara 2: Ciarra Cathelya Ballo (SD Inpres Olalain) – Hadiah Rp3.500.000.
- Juara 3: Abigail Natania Nomleni (SD Negeri Tuabolok) – Hadiah Rp3.000.000.
- Harapan I: Blessing Cantika Panie (SD Inpres Mokdale) – Hadiah Rp2.500.000.
- Harapan II: Firstanza Adriany Beatrix Penna (SDN Olafuliha’a) – Hadiah Rp2.000.000.
- Harapan III: Chaila Fangidae (SD GMIT Hutu) – Hadiah Rp1.750.000.
Bukan Sekadar Angka, Melainkan Investasi Budaya
Pemerintah daerah menegaskan bahwa pemberian uang pembinaan dengan total belasan juta rupiah ini memiliki filosofi yang lebih dalam dari sekadar hadiah perlombaan.
“Apresiasi ini bukan sekadar angka dalam nominal hadiah, tetapi investasi bagi tumbuhnya generasi untuk mencintai bahasa, memahami akar budaya, dan mampu menyampaikan nilai-nilai luhur kepada orang lain,” jelas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan melalui Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan, Folkes Panie, Rabu (29/4).
Folkes menambahkan bahwa keberanian anak-anak dalam bertutur adalah bukti nyata bahwa budaya Rote Ndao masih memiliki masa depan. Cerita rakyat yang hidup di tangan generasi muda menjadi tanda bahwa ingatan kolektif daerah tetap terjaga dengan baik. (**)







