ROOLNEWS.ID – Pemerintah Kabupaten Rote Ndao bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (UNPAD) menggelar Diseminasi Hasil Kajian Kawasan Transmigrasi Batutua–Nusamanuk di Graha Narwastu, Jumat (28/11/2025). Forum ini menjadi titik temu strategis antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk mengevaluasi sekaligus merancang arah baru pengembangan kawasan transmigrasi yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Rote Ndao.
Kegiatan ini menghadirkan dua tim ahli dari Ekspedisi Patriot. Tim Output 1 dipimpin oleh dr. Dani Ferdian, M.K.M., Sp.KKLP., Subsp. COPC, dengan anggota Givanka Amalya Yuda, Friyona Dewi Fortuna, Jessica, dan Tazkya Fatimah Azzahrany. Sementara Tim Output 2, yang fokus pada desain komoditas unggulan, dipimpin oleh Dr. Siti Nurhasanah, S.TP., M.Si., bersama Nindi Ika Nurhidayah, Renalda Alvendria, Iwang Fadillo, dan Syfa Rakhmalia Darmoningsih.
Hadir dalam agenda tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao Drs. Jonas M. Selly, MM., jajaran pimpinan OPD, camat, kepala desa, perwakilan Satuan Permukiman (SP), serta pelaku usaha lokal.
Dalam arahannya, Sekda Jonas menegaskan bahwa paradigma pengembangan transmigrasi harus bergeser. Fokus utama kini adalah transformasi pembangunan kapasitas masyarakat, bukan sekadar ketergantungan pada program bantuan.
Jonas mengungkapkan, pemerintah daerah tengah mematangkan agenda prioritas untuk mendukung usaha masyarakat. Rencana tersebut mencakup alokasi anggaran baru bagi sektor produksi garam, penguatan fasilitas dasar, hingga mendorong kolaborasi lintas kementerian demi intervensi yang terarah dan terintegrasi.
Ketua Tim Output 1, dr. Dani Ferdian, memaparkan hasil evaluasi mendalam menggunakan indikator Indeks Perkembangan Wilayah Transmigrasi. Temuan di lapangan menunjukkan tantangan serius pada dimensi ekonomi dan sosial budaya di tingkat SP maupun Satuan Kawasan Pengembangan (SKP).
”Pada dimensi ekonomi, beberapa aspek seperti pelayanan bank atau lembaga keuangan tidak tersedia, pengembangan usaha masyarakat dan UMKM belum maksimal, serta promosi komoditas unggulan hampir tidak ada,” jelas dr. Dani.
Masalah serupa ditemukan pada dimensi sosial budaya, di mana hampir semua SP masih memiliki penyandang masalah kesejahteraan sosial. Program pemberantasan buta aksara serta kegiatan belajar Paket A, B, dan C tercatat belum berjalan.
Selain evaluasi masalah, dr. Dani juga menyoroti permintaan khusus dari Kementerian Transmigrasi terkait verifikasi lahan tidur.
”Salah satu yang mendapat perhatian dari pusat itu adalah terkait dengan potensi pariwisata. Oleh karena itu kemarin juga tindak lanjut dilakukan kepada salah satu SP di Oenggaut karena yang paling dekat dengan jantung wisata,” ujar dr. Dani. Ia menegaskan bahwa data ketersediaan 400 hektare lahan yang belum teroptimalisasi di Oenggaut akan dilaporkan sebagai prioritas strategis ke pusat.
Menjawab tantangan ekonomi tersebut, Ketua Tim Output 2, Dr. Siti Nurhasanah, menawarkan solusi konkret melalui pengembangan produk berbasis potensi lokal. Timnya menggunakan dua pendekatan: produk sederhana siap terap (seperti bawang goreng dan olahan buah lontar) dan pendekatan skala besar melalui penyusunan business plan.
Sebelumnya, tim telah menggelar pelatihan diversifikasi produk pada 17 November 2025 yang mencakup pembuatan produk hingga pemahaman branding.
”Antusiasme masyarakat luar biasa. Mereka belajar membuat bawang goreng, fruit leather lontar, hingga memahami branding dan BMC (Business Model Canvas),” ungkap Dr. Siti.
Ia merekomendasikan pembangunan Rumah Produksi Bersama yang memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan, serta perlunya akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan integrasi produk ke dalam paket wisata.
Paparan tim ahli mendapat respons positif dari pemangku kepentingan lokal. Camat Loaholu menyebut pelatihan yang diberikan sangat berdampak karena ilmunya bisa langsung dipakai warga. Senada dengan itu, Perwakilan Dinas Peternakan menekankan pentingnya pendampingan agar masyarakat benar-benar bertumbuh.
Menutup diskusi, dr. Dani menegaskan komitmen jangka panjang UNPAD. Ekspedisi Patriot dirancang sebagai program multi-years di mana tahun pertama fokus pada penataan dasar.
”Kami ingin setiap desa bisa menghasilkan satu hingga dua produk unggulan sebelum masuk tahap klasterisasi di tahun ketiga,” tegasnya. Selain itu, UNPAD berkomitmen melanjutkan pengabdian di tahun berikutnya dengan fokus pada pengembangan bawang merah.
Acara diakhiri dengan Focus Group Discussion (FGD) dan penandatanganan komitmen bersama, menandai kesiapan seluruh pihak mengawal rekomendasi ini menuju implementasi nyata di lapangan. (*)







