ROOLNEWS.ID – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Rote Ndao melakukan kunjungan mendadak ke Puskesmas Feapopi di Kecamatan Rote Tengah, pada Senin (9/2/2026). Langkah ini diambil sebagai respons tindak lanjut atas informasi yang beredar mengenai dugaan konflik internal yang berdampak pada pelayanan kesehatan di fasilitas tersebut.
Rombongan Komisi II yang dipimpin oleh Ketua Komisi, Meksi Mooy, S.Pd., serta didampingi beberapa anggota DPRD lainnya, tiba di lokasi setelah menyelesaikan rapat Bapemperda. Kunjungan ini menindaklanjuti kesepakatan rapat internal komisi pada Jumat sebelumnya.

Namun, saat rombongan tiba di lokasi, mereka tidak dapat menemui Kepala Puskesmas karena jam pelayanan telah berakhir. Menyikapi situasi ini, Komisi II memutuskan langkah tegas untuk memanggil para pihak terkait.

”nanti ada surat panggilan untuk Rapat Dengar Pendapat yang dijadwalkan pada Jumat di Kantor DPRD,” ujar Meksi Mooy. Rapat tersebut rencananya akan menghadirkan Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas Feapopi, serta tenaga kesehatan terkait untuk menyelesaikan permasalahan internal agar pelayanan masyarakat tidak terganggu.
Respons Cepat Kerusakan Embung Oehe
Di sela-sela agenda kunjungan tersebut, Ketua Anggota DPRD Meksi Mooy juga memberikan atensi serius terhadap bencana infrastruktur yang terjadi di Kecamatan Rote Barat Daya. Meksi yang juga Sekretaris Partai Golkar Rote Ndao ini menyoroti kerusakan pada Embung Oehe di Desa Oeseli yang dilaporkan jebol akibat curah hujan tinggi pada malam sebelumnya.

Meksi menyampaikan apresiasi atas respons cepat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Rote Ndao. Kepala Dinas PUPR, Sony Saban, bersama tim diketahui telah turun langsung ke lokasi untuk meninjau kerusakan yang mengakibatkan belasan hektare sawah warga tergerus air.

Meksi berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan tindakan penanggulangan, salah satunya dengan mempertimbangkan biaya untuk perbaikan darurat.
”Semoga kerusakan yang ada dapat ditanggulangi dengan cepat sehingga masyarakat petani tidak mengalami kerugian lebih besar,” pungkasnya. (*/VH)







