ROOLNEWS.ID – Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak tanah sebesar Rp 7.000 per liter tampaknya hanya berlaku di atas kertas bagi warga Kabupaten Rote Ndao. Di tengah krisis beruntun yang melanda daerah tersebut, harga minyak tanah di lapangan justru meroket tajam hingga menembus angka Rp 15.000 per liter.
Melambungnya harga kebutuhan pokok ini menambah daftar panjang beban warga di kabupaten yang dikenal sebagai pulau paling selatan Indonesia tersebut. Sebelumnya, daerah ini juga sempat dilanda pemadaman listrik bergilir serta kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan.
Berdasarkan hasil penelusuran awak media pada Senin (23/2/2026) di beberapa titik pengecer, lonjakan harga terpantau terjadi di sejumlah wilayah, termasuk dari Kelurahan Metina hingga Mokdale. Harga jual minyak tanah di tingkat pengecer berkisar antara Rp 12.000 hingga Rp 15.000 per liter. Bahkan, sebagian pengecer mematok harga Rp 75.000 per jerigen ukuran lima liter.
Kondisi sulit ini memicu kepanikan dan keluhan di tengah masyarakat. Di Kota Ba’a, tepatnya di salah satu pengecer di bilangan Kelurahan Namodale, Kecamatan Lobalain, Rote Ndao, warga terpantau harus saling berebut demi mendapatkan pasokan minyak tanah.
Di sisi lain, para pengecer memiliki alasan tersendiri terkait harga jual yang jauh melampaui HET. Anton, salah satu pengecer di Kelurahan Mokdale, mengakui harga jual di tempatnya memang tinggi. Namun, ia berdalih bahwa hal itu disebabkan oleh harga beli dari tingkat agen yang sudah terlampau mahal.
”Kami jual Rp 12.000 sampai Rp 15.000 per liter karena beli di agen sudah Rp 9.000 sampai Rp 10.000 per liter atau sekitar Rp 1.800.000 sampai Rp 2.000.000 per drum ukuran 200 liter. Jangan salahkan kami pengecer, karena agen saja sudah jual mahal,” kata Anton.
Lebih lanjut, Anton menyebut bahwa pasokan minyak tanah tersebut diperoleh dari seorang agen bernama Jermi Suwongto, yang akrab disapa Ako Dek.
”Katong ambil di Ako Dek dengan harga Rp 1.800.000 per drum. Tentu harus cari untung dan biaya ongkos angkut,” tambahnya.
Melambungnya harga yang membebani ini membuat warga mendesak adanya tindakan konkret dari otoritas setempat. Elen, warga Alukama yang turut merasakan dampaknya saat membeli minyak tanah, meminta pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera turun tangan.
”Tolong Pemda dan polisi tindak tegas agen maupun pengecer yang jual minyak tanah dengan harga mahal. Kasian kami warga,” keluhnya. (*)







