ROOLNEWS.ID – PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Rote Ndao memberlakukan kebijakan pemadaman listrik bergilir secara ekstrem bagi seluruh pelanggan di wilayah Rote Ndao terhitung mulai Kamis, 22 Januari 2026. Kebijakan ini diambil menyusul terjadinya defisit Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengakibatkan operasional pembangkit listrik saat ini dalam kondisi kritis.
Berdasarkan informasi yang beredar dari PLN ULP Rote Ndao, menipisnya stok BBM ini dipicu oleh cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi di wilayah perairan Rote Ndao yang menghambat kapal pengangkut BBM untuk menyeberang atau bersandar. Selain faktor alam, kendala logistik juga terjadi karena otoritas pelabuhan dan BMKG belum mengeluarkan izin berlayar demi keselamatan pelayaran hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Untuk menjaga ketersediaan energi yang terbatas, PLN menerapkan jadwal pemadaman sistem kelistrikan dengan durasi yang signifikan. Pada hari pertama pemberlakuan, Kamis, 22 Januari, pemadaman dilakukan dalam dua gelombang. Wilayah penyulang Sasando, Onatali, dan Lengguselu mengalami pemadaman pada pukul 16:00 hingga 24:00 WITA. Sementara itu, wilayah penyulang Metina, Papela, dan Busalangga mengalami pemadaman mulai pukul 24:00 hingga pukul 10:00 WITA.
Memasuki tanggal 23 Januari hingga 1 Februari 2026, kondisi pemadaman menjadi lebih ketat di mana sistem kelistrikan Rote 100 persen hanya akan menyala selama empat jam dalam sehari. Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, listrik akan menyala pada pukul 18:00 hingga 22:00 WITA, kemudian kembali dipadamkan selama 20 jam berikutnya mulai pukul 22:00 hingga pukul 18:00 WITA di hari berikutnya.
Manager PLN ULP Rote Ndao, Yohanes Fernandes Lay, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas pelabuhan dan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca. PLN berkomitmen untuk segera menormalkan kembali distribusi listrik secepatnya setelah kapal pengangkut BBM berhasil bersandar dan melakukan proses bongkar muat secara aman. (*)







